Perfilman Indonesia sedang dilanda masalah. Maraknya film porno berkedok film horror sangat meresahkan masyarakat, utamanya para orang tua. Film horor bukan lagi menjadi film yang membuat penontonnya takut tapi juga mengundang syahwat,contohnya film Suster Keramas, Hantu Goyang Karawang, Tali Pocong Perawan,dan masih banyak lagi. Dalam film tersebut, bukan hanya hantu berwajah seram yang muncul melainkan dada paha dari tubuh seksi para pemainnya yang sebenarnya dijadikan daya tarik utama dalam film horor tersebut.
Mungkin perfilman Indonesia mulai teracuni oleh perlfilm barat yang hampir semua filmnya mempertontonkan adegan ciuman bahkan adegan ranjang. Hal ini perlu diawasi secara ketat oleh pihak perfilman. Apalah arti proses sensor sebelum film tayang di masyarakat, kalau isi dalam film horor banyak menunjukkan dada paha yang sama sekali tidak mencerminkan kedudayaan Indonesia.
Bangsa Indonesia memiliki potensi budaya yang luar biasa. Budaya kita yang ketimuran seharusnya mampu diangkat dalam membangkitkan kemajuan perfilman Indonesia. Tidak usah ikut-ikutan budaya barat yang lama-lama semakin hancur saja. Keberagaman budaya kita bisa diangkat untuk menjadi sebuah film. Indahnya alam kita juga bisa dijadikan latar film sekaligus media promosi untuk menarik wisatawan,seperti pariwisata Pulau Belitung mulai meninggkat semenjak pemutaran film Laskar Pelangi.
Kita tau film bukan hanya sebagai media hiburan tapi juga sebagai media pendidikan yang paling efektif. Dalam hal ini film horor adalah sebagai media hiburan. Tapi bagaimana jika bukan hiburan yang didapat malah tontonan yang mengundang syahwat? Sebenarnya Indonesia sangat mampu menciptakan film baik yang mendidik, contohnya film Laskar Pelangi, Petualangan Sherina, Denias. Ketiga film tersebut dimainkan oleh anak-anak tapi memiliki nilai moral dan pendidikan yang tinggi. Ada juga film yang mengangkat nasionalisme seperti Merah Putih. Film tersebut menceritakan tentang perjuangan tentara Indonesia pada jaman Belanda. Film bergenre romantis seperti Ayat-Ayat Cinta juga mendidik.
Jadi sudah semestinya perfilman Indoensia mampu menciptakan film-film yang berkualitas sehingga mampu bersaing dengan perfilman barat tanpa mengesampingkan kebudayaan asli Indonesia.
No comments:
Post a Comment