August 18, 2015

Sabtu Bersama Bapak : Nasihat Bapak kepada Putranya

Novel Sabtu Bersama Bapak

"Sabtu Bersama Bapak"
by Adhitya Mulya

Sudah baca novel ini belum? Saya dapet rekomendasi dari temen tentang novel ini katanya bagus dan ternyata emang bagus meskipun awal-awal masih bingung alur ceritanya hehe. Berikut sedikit cerita saya mengenai novel "Sabtu Bersama Bapak".

Dari judulnya "Sabtu Bersama Bapak" tentu dapat ditebak tokoh utamanya adalah Bapak. Mungkin saya yang masih kurang dalam membaca, tapi baru kali ini membaca novel yang ide ceritanya unik. Sosok Bapak diceritakan dalam sebuah video yang berisi nasihat-nasihat beliau kepada kedua putranya, Satya dan Cakra. Singkatnya, Bapak mengidap penyakit kanker yang menyebabkan kesehatannya terus menurun. Ketika itu kedua putranya masih kanak-kanak namun Bapak tidak ingin putranya kehilangan sosoknya ketika tiada nanti. Bapak dibantu oleh sang istri, Ibu Itje, membuat video yang berisi cerita-cerita Bapak untuk kedua putranya kelak mulai dari cerita untuk putranya ketika kanak-kanak, remaja, dewasa, memilih pasangan dan berumah tangga. Video-video tersebut akan ditonton kedua putranya ketika hari Sabtu.

Video pertama hanya perkenalan saja, video kedua dimulai dengan Plan Ahead , kurang lebihnya seperti ini ,

Planning is everything. Ini adalah sesuatu yang Bapak pelajari agak terlambar. Bapak tidak ingin kalian terlambat juga. Bapak menceritakan ketika melamar Ibu Itje kurang perencanaan, belum punya rumah, belum ada perencanaan financial kedepan yang akhirnya memutuskan untuk mengundur pernikahan sampai tiga tahun untuk mencicil rumah dan lain-lain. Sejak itu Bapak selalu punya renana termasuk rencana untuk keluarganya ketika Bapak divonis kanker

Pesan-pesan Bapak kepada putranya tersampaikan dalam video-video tersebut. Tak hanya itu, keteguhan hati Ibu Itje akan takdir yang cepat atau lambat akan mengambil nyama sang suami, pertanggung jawaban Bapak sebagai seorang suami dan orangtua dalam mempersiapkan masa depan keluarganya jika ia meninggal,  kisah Ibu Itje yang berjuang menjadi single parent menghidupi kedua putranya, cerita Kang Satya bersama keluarga kecilnya dan perjuangan Saka, sang fakir cinta, untuk mendapatkan Ayu, Bapak juga mengajarkan keluarganya untuk selalu mandiri. Bapak adalah teladan bagi sang istri dan kedua putranya. Disetiap persoalan hidup Satya dan Saka seolah sudah diprediksikan dengan baik oleh Bapak, seolah-olah video Bapak menjadi petunjuk jalan keluar yang Tuhan kirimkan. 

Salah satu Video Bapak tentang Sebuah Tiket, ketika itu Saka teringkat akan pesan Bapak tentang pentingnya pendidikan,

.......
"Dalam hidup kalian mungkin akan datang beberapa orang berkata bahwa prestasi akademis itu gak penting. Yang penting attitude. Kemudian meraka akan berkata, yang penting dari membangun karier adalah perilaku kita. Kemampuan kita berbicara, berinteraksi, bla bla bla. "
" Mereka banar bahwa semua ini tidak ada sekolahnya. Tapi yang mereka salah adalah bilang bahwa prestasi akademik itu gak penting"
"Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk."
"Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membuka lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain."

Seketika saya menyesal kurang serius selama 3 tahun kemarin menjalani kuliah :")

Memang dalam sebuah cerita tidak asik jika tidak ada bumbu cinta. Tak melulu berisi nasihat, kisah cinta Saka dalam mendapatkan Ayu menjadi hiburan tersendiri. Kegigihannya dalam mendapatkan Ayu yang untungnya berakhir happy ending. Ada cerita yang menarik saya nih, ketika Saka sedang makan siang bersama Ayu setelah Tur Wisata Kota Tua,

"Kalo saya, saya gak akan mencari perempuan yang melengkapi saya"
"Loh kenapa?"
"Kata Bapak saya...dan dia dapat ini dari orang lain. Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, Yu"
"Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jwab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain"
"....."
"Tiga dikurangi tiga berapa,Yu?"
"Nol"
"Nah. Misal, saya gak kuat agamanya. Lantas saya cari pacar yang kuat agamanya. Pernikahan kami akan habis waktunya dengan si kuat melengkapi yang lemah"
"Padahal setiap orang sebenernya wajib mengutkan agama. Terlepas dari siapapun jodohnya"
"Find someone complimentary, not supplementary"

Just wow. Konsep baru dalam suatu hubungan tapi laki-laki seperti ini hanya ada di novel, isn't ? :p

Ada juga perkataan dari Saka yang menarik, ketika itu Ibu Itje mengatakan bahwa Saka saatnya memiliki pasangan,

"Mamah tahu, setiap anak berhak cari dan dapat orang yang saling mencinta. Bukan karena mereka mengejar umur senja orang tua"
"Kamu, kerjaan udah bagus. RUmah udah punya. Tapi punya kamar, dijadiin ruang game gini. Gak usah anak atau istri, pacar belum punya. .........."
"Mam...sebenernya ada kok, alasan kenapa Saka sampai sekarang gak nikah. Atau belum punya pacar. Saka membuktikan kepada diri sendiri dulu. Bahwa saka siap lahir batin untuk jadi suami. Makannya ngejar karier dulu. Belajar agama dulu. Nabung dulu. Kalau Saka udah peda sama diri sendiri akan pede sama perempuan. Rumah ini adalah persiapan terkahir"
"Ka, istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat"
"Iya sih. Tapi Mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat"

Sebagai pembaca wanita, saya senyum aja bacanya :)


Saya tidak bisa mengkutipkan nasihat-nasihat Bapak karena hampir setiap bab tersurat nasihat Bapak yang terangkai dalam cerita. Saya coba untuk ringkas kok jadi kurang menarik untuk dibaca. Lebih baik dibaca sendiri. Saya termasuk orang yang lebih dekat kepada Ibu ketimbang Bapak, tapi membaca novel ini saya seperti baru menyadari apa-apa yang dilakukan Bapak kepada kami tanpa kami sadari. Barangkali novel ini memang cocok dan recommended untuk dibaca para lelaki. Bukan cerita yang menye-menye. Sometimes ketika saya membaca dan sebagai pembaca wanita jadi sedikit baper dan mbatin, "para lelaki please bacalah novel ini, sosok Bapak dan Saka disini it's totally the real men", hahaha.

Salut sama Adhitya Mulya, yang berhasil merangkum poin-poin penting kehidupan dari sisi laki-laki secara unik dan berbeda. Caranya bercerita sangat sederhana, mudah dipahami, tak banyak bahasa puitis juga tapi sangat bermanfaat dan bermakna. Ditunggu novel-novel berikutnya dan kabarnya akan dijadikan film layar lebar. Sebagai pembaca semoga makna cerita di novel bisa tervisualisasikan dengan baik. Good luck untuk filmya :)

August 03, 2015

5 HAL BARU YANG DILAKUKAN MEGA

"Mas, hidupmu kok bisa seproduktif itu gimana caranya?", tanyaku pada senior dikampus sekaligus teman satu komunitas.
"Aku aja ketiban tugas banyak udah kelimpungan, sampe lupa caranya baca buku", tambahku.



That is what something new that i have to do. Kenapa saya membuat ini? Ceritanya panjang dan saya baru menyempatkan diri menuliskan alasan ini. Singkat ceritanya, ketika semester 6 kemarin (alhamdulillah sudah dilalui dengan baik) saya seperti tidak memiliki waktu untuk aktualisasi diri seperti membaca buku dan membaca koran yang sebelumnya menjadi kebiasaan setiap pagi hari. Namun dengan adanya kesibukan akan tugas kampus dan mengurusi bisnis kecil saya yang masih harus di emong dan minta terus diperhatikan, kebiasaan membaca koran dipagi hari lambat laun berkurang bahkan hilang. Begitu pula dengan membaca buku atau novel favorit saya samar-samar berkurang. Pada puncaknya, saya merasa bosan dengan rutinitas pada saat itu dan merasa ada yang ganjil dihati. Bertanyalah saya pada orang yang sudah ahlinya dalam kesibukan, he is Arsyad.

Ketika saya bertanya bagaimana caranya memanage waktu kamu dengan segala kesibukan kamu? Dan aku kembali mengeluh tentang ketidakbisaan saya dalam manage waktu. Eh tapi dia malah nggak menjawab pertanyaan saya, dia malah balik bertanya, bagaimana kamu menikmati hidupmu? Saya yang agak lemot bertanya apa maksudnya. Kamu butuh berapa kali ketemu temen, nongkrong bareng temen dalam seminggu? Sekali, duakali, tigakali? Oh i see....maksudnya adalah hal-hal yang disebut "me time" atau bisa juga berhubungan sama hobi kita, atau apa-apa yang membuat kita tenggelam melakukkannya tapi kita merasa bahagia setelahnya , seperti harus menonton film di bioskop sebulan sekali, harus belanja ke Matahari setiap weekend, harus pergi ke Mall setiap Senin misalnya.

Dari pembicaraan yang masih seupil, he ask to me menyebutkan hal-hal baru yang ingin saya lakukan atau bisa juga hal lama tapi saya ingin menambah kuantitasnya. And this is it 5 hal baru yang ingin saya lakukan.

1. Baca koran tiap pagi
Seperti yang saya ceritakan diawal, kebiasaan baca koran menjadi jarang dan saya ingin membiasakan hal ini lagi. Dengan baca koran kita tau informasi-informasi terbaru. Tapi sekarang nggak harus koran juga sih ya, bisa lewat gadget juga. Hanya saja kalo lewat internet sumber suka nggak jelas, informasi yang diterima jadi nggak mutu.

2. Senam
Sebenernya ini hal yang paling sulit untuk dijadikan list dalam 5 hal baru karena saya tidak suka olahraga. Sempet bimbang mau dimasukin ke dalam list. Tapi kalau nggak dipaksa jadi nggak sehat ya.

3. Baca Buku
Baca buku itu penting! Bersyukur aja ditakdirkan seneng baca buku karena masih banyak juga orang yang nggak suka baca buku. Baca buku itu kayak candu aja. Ketika baca novel entah kenapa bacanya sambil membayangkan ceritanya. Rasa-rasanya memang jadi seperti menonton film. Ini saya aja yang suka mengkhayal atau giman ya haha. Dari baca buku juga, kita bisa tau banyak cerita, pengalaman yang memang tidak bisa diceritakan lewat film, sinetron atau media gambar lain. Disatu sisi mungkin karena ceritanya terlalu panjang, atau terlalu sulit untuk digambarkan. Itu asiknya nulis :)

4. Nulis blog
Sebenarnya saya senang sekali menulis seperti ini. Berbagi cerita dan pengalaman walaupun blog ini belum tentu dibaca juga hehehe yang nulis aja jarang-jarang ngepost. Ada banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan ucapan tapi dengan menulis bisa. Sejak SD sampai SMA aku termasuk orang yang suka nulis diary lho, ya nggak sering-sering banget juga cuma bisa jadi satu buku. Suka ngarang cerita juga dulu, terus sok-sokan mau dikirim ke redaksi majalah.

5. Belajar masak
Noted banget. Sebagai seorang wanita yang cepat atau lambat akan dipinang dan menjadi seorang istri juga ibu, saya sangat sadar keahlian memasak ini penting. Kata orang, biar suami betah haha. Bukannya nggak bisa, bisa lah dikit-dikit tapi masa iya suami tercinta nanti dimasakin itu-itu aja wkwk.

Menariknya dengan 5 aktifitas baru tersebut saya malah merasa "lho kok kegiatan saya malah bertambah banyak? Kan saya cerita biar dapet solusi gimana biar saya bisa manage waktu". He answer my quite question, "Ternyata awal dar kita tidak bisa bagi waktu atau kelabakan karena kita tidak menikmari apa yang kita lakukan"

Jleb!!
Terkadang orang biar sadar memang kudu disentil, nah kali ini saya kena sentil. Saya merasa terlalu banyak mengeluh dalam menjalankan aktivitas saya ketika itu, tidak menikmati. Padahal jika saya menikmati kegiatan tentu saya akan melihat pelajaran, hikmah, tujuan dari kegiatan tersebut. Menyesalah saya.

So, intinya adalah MENIKMATI. Kata orangtua, setiap langkah kita sekarang adalah rajutan-rajutan kedepan. Tentu ada maksud dan takdir dalam setiap langkahnya. Saya kira, banyaknya kegiatan juga bukan jadi penilaian utama kita menjadi bermanfaat tapi dengan merasa MENIKMATI kegiatan mungkin menjadi bermanfaat karena didalam kata NIKMAT ada KEIKHLASAN sehingga menjadi bernilai bermanfaat dan tentu berpahala. Kalo nggak NIKMAT pasti banyak ngeluh, nilai manfaat dan pahalanya jadi berkurang. Begitu kira-kira :")


_________________________________________________________________________________
Nb : Well, tulisan ini harusnya saya tulis dua atau tiga bulan yang lalu tapi saya baru menyempatkan diri untuk menulis. Maafkan saya Pak Coach. Terima kasih sharingnya!