Perempuan ini jatuh (lagi) pada lelaki cakap.
(Masih) dengan bersembunyi, malu-malu dan tak mau diketahui.
Tergambar, bagaimana lelaki itu cukup membuat perempuan seketika jatuh.
Cukup dengan wawasan yang luas, pribadi yang agamis,
Sejak itu, perempuan diam-diam berharap waktu akan berbaik hati padanya.
Satu Waktu dalam Jarak
Satu waktu, perempuan ini selalu menanti-nanti persimpangan.
Satu waktu pada hari Senin, perempuan ini selalu bersemangat dan berbahagia menyambutnya. Apalagi ketika adzan dhuhur berkumandang, perkuliahan selesai dan perempuan ini pergi ke mushola. Mata perempuan ini, mencuri-curi pandangan ke shof laki-laki, mencari sosok lelaki jangkung itu.
Dari deretan punggung, perempuan tau mana lelaki itu. Tersenyumlah perempuan.
Bahagianya seperti menemukan benda kesayangan yang sulit ditemukan.
Pada persimpangan, ketika lelaki itu melihat perempuan ini kemudian mengembangkan sedikit senyuman untuknya. Satu waktu, jantung perempuan ini berdegup kencang, serasa ingin berteriak mengabarkan pada langit, bulan, bintang dan seisinya bahwa perempuan ini sedang berbahagia.
Perempuan ini tersenyum sendiri mengingat pertemuan dengan lelaki itu.
Diam-diam perempuan ini suka memperhatikannya dalam jarak.