| Novel Sabtu Bersama Bapak |
"Sabtu Bersama Bapak"
by Adhitya Mulya
Sudah baca novel ini belum? Saya dapet rekomendasi dari temen tentang novel ini katanya bagus dan ternyata emang bagus meskipun awal-awal masih bingung alur ceritanya hehe. Berikut sedikit cerita saya mengenai novel "Sabtu Bersama Bapak".
Dari judulnya "Sabtu Bersama Bapak" tentu dapat ditebak tokoh utamanya adalah Bapak. Mungkin saya yang masih kurang dalam membaca, tapi baru kali ini membaca novel yang ide ceritanya unik. Sosok Bapak diceritakan dalam sebuah video yang berisi nasihat-nasihat beliau kepada kedua putranya, Satya dan Cakra. Singkatnya, Bapak mengidap penyakit kanker yang menyebabkan kesehatannya terus menurun. Ketika itu kedua putranya masih kanak-kanak namun Bapak tidak ingin putranya kehilangan sosoknya ketika tiada nanti. Bapak dibantu oleh sang istri, Ibu Itje, membuat video yang berisi cerita-cerita Bapak untuk kedua putranya kelak mulai dari cerita untuk putranya ketika kanak-kanak, remaja, dewasa, memilih pasangan dan berumah tangga. Video-video tersebut akan ditonton kedua putranya ketika hari Sabtu.
Video pertama hanya perkenalan saja, video kedua dimulai dengan Plan Ahead , kurang lebihnya seperti ini ,
Video pertama hanya perkenalan saja, video kedua dimulai dengan Plan Ahead , kurang lebihnya seperti ini ,
Planning is everything. Ini adalah sesuatu yang Bapak pelajari agak terlambar. Bapak tidak ingin kalian terlambat juga. Bapak menceritakan ketika melamar Ibu Itje kurang perencanaan, belum punya rumah, belum ada perencanaan financial kedepan yang akhirnya memutuskan untuk mengundur pernikahan sampai tiga tahun untuk mencicil rumah dan lain-lain. Sejak itu Bapak selalu punya renana termasuk rencana untuk keluarganya ketika Bapak divonis kanker
Pesan-pesan Bapak kepada putranya tersampaikan dalam video-video tersebut. Tak hanya itu, keteguhan hati Ibu Itje akan takdir yang cepat atau lambat akan mengambil nyama sang suami, pertanggung jawaban Bapak sebagai seorang suami dan orangtua dalam mempersiapkan masa depan keluarganya jika ia meninggal, kisah Ibu Itje yang berjuang menjadi single parent menghidupi kedua putranya, cerita Kang Satya bersama keluarga kecilnya dan perjuangan Saka, sang fakir cinta, untuk mendapatkan Ayu, Bapak juga mengajarkan keluarganya untuk selalu mandiri. Bapak adalah teladan bagi sang istri dan kedua putranya. Disetiap persoalan hidup Satya dan Saka seolah sudah diprediksikan dengan baik oleh Bapak, seolah-olah video Bapak menjadi petunjuk jalan keluar yang Tuhan kirimkan.
Salah satu Video Bapak tentang Sebuah Tiket, ketika itu Saka teringkat akan pesan Bapak tentang pentingnya pendidikan,
.......
"Dalam hidup kalian mungkin akan datang beberapa orang berkata bahwa prestasi akademis itu gak penting. Yang penting attitude. Kemudian meraka akan berkata, yang penting dari membangun karier adalah perilaku kita. Kemampuan kita berbicara, berinteraksi, bla bla bla. "
" Mereka banar bahwa semua ini tidak ada sekolahnya. Tapi yang mereka salah adalah bilang bahwa prestasi akademik itu gak penting"
"Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk."
"Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membuka lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain."
Seketika saya menyesal kurang serius selama 3 tahun kemarin menjalani kuliah :")
Memang dalam sebuah cerita tidak asik jika tidak ada bumbu cinta. Tak melulu berisi nasihat, kisah cinta Saka dalam mendapatkan Ayu menjadi hiburan tersendiri. Kegigihannya dalam mendapatkan Ayu yang untungnya berakhir happy ending. Ada cerita yang menarik saya nih, ketika Saka sedang makan siang bersama Ayu setelah Tur Wisata Kota Tua,
"Kalo saya, saya gak akan mencari perempuan yang melengkapi saya"
"Loh kenapa?"
"Kata Bapak saya...dan dia dapat ini dari orang lain. Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, Yu"
"Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jwab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain"
"....."
"Tiga dikurangi tiga berapa,Yu?"
"Nol"
"Nah. Misal, saya gak kuat agamanya. Lantas saya cari pacar yang kuat agamanya. Pernikahan kami akan habis waktunya dengan si kuat melengkapi yang lemah"
"Padahal setiap orang sebenernya wajib mengutkan agama. Terlepas dari siapapun jodohnya"
"Find someone complimentary, not supplementary"
Just wow. Konsep baru dalam suatu hubungan tapi laki-laki seperti ini hanya ada di novel, isn't ? :p
"Kalo saya, saya gak akan mencari perempuan yang melengkapi saya"
"Loh kenapa?"
"Kata Bapak saya...dan dia dapat ini dari orang lain. Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, Yu"
"Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jwab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain"
"....."
"Tiga dikurangi tiga berapa,Yu?"
"Nol"
"Nah. Misal, saya gak kuat agamanya. Lantas saya cari pacar yang kuat agamanya. Pernikahan kami akan habis waktunya dengan si kuat melengkapi yang lemah"
"Padahal setiap orang sebenernya wajib mengutkan agama. Terlepas dari siapapun jodohnya"
"Find someone complimentary, not supplementary"
Just wow. Konsep baru dalam suatu hubungan tapi laki-laki seperti ini hanya ada di novel, isn't ? :p
Ada juga perkataan dari Saka yang menarik, ketika itu Ibu Itje mengatakan bahwa Saka saatnya memiliki pasangan,
"Mamah tahu, setiap anak berhak cari dan dapat orang yang saling mencinta. Bukan karena mereka mengejar umur senja orang tua"
"Kamu, kerjaan udah bagus. RUmah udah punya. Tapi punya kamar, dijadiin ruang game gini. Gak usah anak atau istri, pacar belum punya. .........."
"Mam...sebenernya ada kok, alasan kenapa Saka sampai sekarang gak nikah. Atau belum punya pacar. Saka membuktikan kepada diri sendiri dulu. Bahwa saka siap lahir batin untuk jadi suami. Makannya ngejar karier dulu. Belajar agama dulu. Nabung dulu. Kalau Saka udah peda sama diri sendiri akan pede sama perempuan. Rumah ini adalah persiapan terkahir"
"Ka, istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat"
"Iya sih. Tapi Mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat"
Sebagai pembaca wanita, saya senyum aja bacanya :)
Saya tidak bisa mengkutipkan nasihat-nasihat Bapak karena hampir setiap bab tersurat nasihat Bapak yang terangkai dalam cerita. Saya coba untuk ringkas kok jadi kurang menarik untuk dibaca. Lebih baik dibaca sendiri. Saya termasuk orang yang lebih dekat kepada Ibu ketimbang Bapak, tapi membaca novel ini saya seperti baru menyadari apa-apa yang dilakukan Bapak kepada kami tanpa kami sadari. Barangkali novel ini memang cocok dan recommended untuk dibaca para lelaki. Bukan cerita yang menye-menye. Sometimes ketika saya membaca dan sebagai pembaca wanita jadi sedikit baper dan mbatin, "para lelaki please bacalah novel ini, sosok Bapak dan Saka disini it's totally the real men", hahaha.
Salut sama Adhitya Mulya, yang berhasil merangkum poin-poin penting kehidupan dari sisi laki-laki secara unik dan berbeda. Caranya bercerita sangat sederhana, mudah dipahami, tak banyak bahasa puitis juga tapi sangat bermanfaat dan bermakna. Ditunggu novel-novel berikutnya dan kabarnya akan dijadikan film layar lebar. Sebagai pembaca semoga makna cerita di novel bisa tervisualisasikan dengan baik. Good luck untuk filmya :)
Tenang meeeg. Banyak kok laki2 kayak bapak ato saka. You just haven't met him yet aja ;)
ReplyDeletereally? i'm happy to hear that mbak haha. maybe aku terlalu kuper ya sama anak beskem trs mainnya wkwkwk
DeleteKoyoke nek arek beskem iku hanya digunakan sebagai contoh lelaki yang kurang baik deh meg hahahaa
Delete