December 04, 2010

Alita@First

Cinta yang Sembunyi

Judul        : Alita@First
Penulis     : Dewie Sekar
Peresensi : Mega Karunia R.
Penerbit   : Gramedia
Tebal       : 328 lembar

Dewi Sekar, penulis novel dengan nama lengkap Dewie Sekar Hoedion lahir tanggal 23 Maret.  Penulis yang berawal dari gemar membaca buku menjadi termotivasi untuk menulis. Kini ia tinggal di Jakarta bersama suami, dua putri, dan segunung mimpi yang sedang diusahakannya agar bisa jadi kenyataan. Prinsip hidupnya: tak ada yang dinamakan "kebetulan" di dunia ini. Menurutnya, segala yang pernah dan akan terjadi di alam semesta pastilah sudah direncanakan dengan mahabijak olehNya, bahkan sampai ke detail terkecil, misalnya tetesan embun yang jatuh dari ujung daun. Karya Dewi lainnya yaitu Zona@Tsunami,Perang Bintang,Zona@Last dan Langit Penuh Daya. Beberapa cerpennya juga dimuat di Anita, Ceria, Nova, Femina, dan Chic.
Kali ini, Dewi Sekar kembali meluncurkan novel bergenre fiksi-Metro Pop berjudul Alita@First. Dalam buku ini,Dewi bermaksud menguraikan kisah cinta tanpa syarat tersebut dengan menghidupkan tokoh Alita. Cerita Alita, Yusa, Abel dan Erwin dalam meraih cita-cita dan cinta sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari.Mengikuti alur kehidupan Alita serupa membaca sebuah catatan kehidupan seseorang yang benar-benar nyata.
Alita, seorang remaja berusia 13 tahun yang baru menginjak bangku SMP, terpesona pada seorang pria teman kakaknya, Yusa. Pembawaan Erwin, pria itu, sangatlah menyenangkan. Sehingga mampu membuat Alita yang pendiam menjadi ceria dan bisa banyak bercerita. Namun satu sifat Erwin yang tidak baik, yaitu begitu banyaknya wanita yang tergoda pesonanya menyebabkan terdapat kesan bahwa Erwin playboy yang gemar mempermainkan wanita.
Yusa, mama, bahkan eyang putri memperingatkan Alit agar tidak jatuh pada perangkap Erwin. Sayangnya perasaan memang tidak dapat ditolak kehadirannya. Cinta itu tumbuh perlahan yang berkelanjutan hingga mengendap di dasar hati Alit yang terdalam dan tidak bisa dijangkau siapapun lagi. Namun Alita tetap menemukan akal sehatnya dan menyimpan rasa itu diam-diam.
Saat Alit memutuskan untuk kuliah di Jogja sambil menemani eyang putrinya, Yusa telah bekerja di Surabaya dan Erwin kembali ke Jakarta. Intensitas pertemuan secara fisik tentu telah berkurang, digantikan oleh teknologi masa kini, e-mail.
Kuasa Allah-lah yang mengatur pertemuan dan perpisahan seseorang. Ava, kekasih Yusa, mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal dunia. Kejadian itu menyebabkan Alit bertemu kembali dengan Erwin. Pria itu menghibur kesedihan Alit, kembali membangun rasa cinta Alit. Hingga saat Erwin mengatakan bahwa kebawelan Alit mirip dengan Tira, kekasihnya, hati Alit terkoyak. Dia pun memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Erwin, entah itu puisi yang rutin mereka kirimkan tiap bulan, ataupun SMS dan telepon. Alit mengganti alamat email dan nomor handphone-nya.
Hari berganti bulan, Alit yang selalu menyimpan Erwin di hatinya, dibujuk Abel sahabatnya agar mau berkenalan lebih jauh dengan Baim, seorang mahasiswa yang kos di depan rumah eyang putri. Pada hari Sabtu yang telah mereka tentukan untuk berkencan, tak disangka Erwin datang ke Jogja. Reaksi Alit yang meneteskan airmata saat menemui Erwin, menjawab semua pertanyaan Erwin mengapa Alit tidak membalas email dan teleponnya.
Perasaan Alit tertumpah sudah saat itu. Dia tak lagi malu mengakui bahwa dia menyukai Erwin, dan Erwin pun membuka semua kisah sepak terjangnya selama ini bersama para wanita. Dan Tira adalah wanita yang diharapkannya menjadi yang terakhir dalam hidupnya, bahkan mereka berniat untuk menikah. Alit tidak berharap apapun lagi pada Erwin, dia hanya ingin mencoba membuka hati untuk Baim.
Namun perasaan Alit pada Erwin terlalu kuat. Saat pak pos datang mengantar paket untuk Alit dari Erwin yang berisi kain brokat serta undangan pernikahan Erwin dan Tira, raut wajah Alit cukup menjelaskan bagaimana hancurnya perasaan gadis itu. Baim pun cukup pintar untuk membaca ekspresi Alit. Jika saya boleh menggambarkan perasaan Alit itu dengan kata-kata saya sendiri, akan saya katakan pasti hatinya serasa ditusuk pedang yang tajam dan perlahan pedang itu berputar sehingga pedihnya makin terasa dan takkan pernah hilang.
Singkat cerita Erwin bercerai dari isterinya karena dia selingkuh dengan rekan kerjanya. Dia positif HIV/Aids setelah berhubungan dengan rekan kerjanya, isterinya juga positif HIV/Aids tertular dari Erwin. Setelah Erwin mengetahui ia mengidap HIV/Aids ia bercerita kepada Yusa tentang semuanya termasuk tentang Alita juga penyakit HIVnya. Mendengar itu Yusa menangis. Alita lebih dari menangis, seperti mimpi yang tak pernah terduga. Hatinya seperti disayat beribu pisau,ingin berteriak sekeras-kerasnya agar dunia tahu betapa hatinya sakit mendengar takdir ini. Lambat laun ketahanan tubuh Erwin rapuh.  Pertemuan pun tak pernah terjadi semenjak malam pemberitaan itu. Sesekali mereka hanya telepon atau berkirim sms namun hal itu lama kelamaan hilang hingga Erwin pun meninggal. Alita hanya bias melihat jasadnya dari kejauhan seperti janjinya kepada Erwin.
Itulah sederet cerita panjang Alita. Ceritanya mengalir secara kronologis, ditandai dengan tahapan pertambahan umur Alita. SMP, SMA, kuliah, dan bekerja. Setting lokasi berturut-turut ada di Palembang, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, dan berseling dengan Bali. Benang merah cinta terpendam Alita pada Erwin ditempeli dengan sub-plot liku-liku kehidupan Alita yang sebagian besar berisi profesi sebagai guru les privat, sub-plot kisah haru-biru cinta Yusa dan usahanya mencari pekerjaan, sub-plot cerita cinta sahabatnya, dan ditutup dengan ending yang membuat pembaca berkaca-kaca.
Sampul novel ini sangat menarik. Latar sampul yang berwarna biru muda telihat sangat manis. Terdapat gambar seorang wanita yang menggunakan gaun hitam panjang yang menambah kesan elegant pada novel tersebut. Judul di tulis di sebelah kiri atas dengan warna putih, di samping gambar objek utama. Nama pengarang ditulis di bagian atas buku dengan warna hitam dan menggunakan huruf kecil. Enak dipandang sehingga orang yang melihat tertarik untuk mengambilnya meski hanya sekedar membaca singkat cerita dibagian belakang bahkan hingga membelinya.
Tebal 320 halaman menurut saya tidak terlalu tebal,standar novel-novel lah. Kertas yang digunakan juga sangat bagus sehingga meskipun tebal tapi terasa sangat ringan. Harga Rp 45.000 menurut saya standar. Setara dengan cover dan kertas yang bagus dan cerita yang begitu apik untuk dibaca utamanya para remaja.
Menariknya lagi dari novel ini adalah pelajaran moral yang coba diselipkan Dewie dalam keseharian tokoh-tokohnya. Entah apakah dilakukan dengan sengaja atau tidak, yang jelas saya mendapatkannya. Sangat terasa bagaimana harmonisnya hubungan orang tua dengan anak, antar teman, atau hubungan intim antara lawan jenis. Jempol dua saya acungkan buat Dewie yang berhasil membuat cerita yang demikian indah tanpa disertai adegan tak senonoh yang belakangan makin vulgar ditulis dalam novel-novel. Tidak ada adegan ranjang. Tidak ada gemebyar suasana klub malam.Tidak ada pesta minuman dan narkoba. Bahkan, kontak fisik hanya sebatas pelukan, itu pun tidak dimaksudkan sebagai penggambaran umbaran nafsu para tokohnya.
Endingnya yang membuat saya dan mungkin pembaca lainnya ternganga. Tak pernah disangka jika Erwin mengidap HIV/Aids hingga meninggal. Jarang sekali novel yang ber-ending sedih. Namun hal ini membuat pembaca malah penasaran dan tertarik untuk membeli novel lanjutannya.
Sayangnya, di halaman terakhir tidak tercantum tentang penulis. Umumnya di halaman terakhir tercantum tentang penulis beserta fotonya. Hal ini juga terjadi pada karya Dewi yang berjudul “Lagit Penuh Daya”. Pada halaman terakhir tercantum tentang penulis namun tidak terdapat fotonya. Padahal hal itu sangat membantu pembaca untuk mengetahui wajah sang penulis dan biodatanya.
Cara penulis menghidupkan karakter tokoh-tokohnya melalui gaya bahasa yang sederhana,tidak bertele-tele dan dekat dengan keseharian membuat pembaca mudah memahami dan menjiwai setiap adegan. Pembaca seperti bisa merasakan kebahagian Alita, ketika Alita sakit hati,Alita kecewa. Pembaca bisa merasakan itu semua hingga meneteskan air mata.
Kesimpulannya ceritanya sangat bagus. Empatjempol buat sang penulis,Dewi Sekar.  Penulis berhasil membawa pembaca pada jiwa masing-masing tokoh hingga membuat saya menangis pada beberapa cerita. Gaya bahasa yang digunakan pas sehingga pesan yang disampaikan penulis sangat mengena.
Setelah membaca novel karya Dewi Sekar berjudul “Alita@First” banyak pelajaran yang diambil dari cerita setiap tokoh. Yusa; jangan terlalu terlarut dalam kesedihan, jika jatuh cepatlah bangkit agar tidak ketinggalan dengan yang lain. Lupakan masa lalu dan gapai masa depan. Erwin; cerita Erwin sangat bermanfaat untuk meningatkan semua orang betapa kejamnya virus HIV/Aids dan betapa bahayanya melakukan seks bebas. Ketegasan sebagai lelaki dalam mengambil keputusan juga patut dicontoh. Alita; jangan menunggu sesuatu hal yang tak pasti. Dalam keadaan apapun Alita tetap mengingat Tuhannya yaitu Allah. Satu hal yang sering dilupakan kebanyak remaja muslim. Ketegaran dan keikhlasannya patut ditiru.
Novel ini wajib dijadikan panutan penulis lainnya bahwa suatu cerita tidak selalu di bumbui denga cerita cinta yang manis, hal-hal yang berbau kemewahan, kecantikan, kepandaian dan dunia malam seperti novel-novel yang lain.

2 comments:

  1. Saya juga sudah baca novel ini dan saya sangat suka kecuali bagian endingnya. Hiks...masa Erwin nya mati...hehehe...

    ReplyDelete
  2. saya baca sampai nangis terisak-isak.
    bener-bener bikin nangis novel ini, keren.
    aku nunggu novel lanjutannya nih,kapan ya ?

    ReplyDelete